PDA

View Full Version : [Internasional] Indonesia terlibat dalam proyek pengembangan pesawat tempur bersama Korea Selatan



dwibowo_83
22 July 2010, 10:54
Indonesia Joins South Korean Fighter Effort
By JUNG SUNG-KI
Published: 15 Jul 2010 12:01
Print Print | Print Email

SEOUL - South Korea and Indonesia signed a memorandum of understanding (MoU) July 15 to jointly develop a 4.5-generation fighter jet with greater capabilities than those of the KF-16.

Indonesia agreed to bear 20 percent of the development costs of the 5 trillion won ($4.1 billion) project over the next decade, according to South Korea's Defense Acquisition Program Administration (DAPA). South Korea plans to foot 60 percent of the bill, with the balance to come from other government or corporate partners.

The two Asian countries will work together in production and marketing of the KF-X aircraft. Indonesia also agreed to buy about 50 KF-X aircraft when mass production begins.

The agreement follows a KF-X letter of intent signed in March 2009 by South Korean President Lee Myung-bak during a visit to Indonesia.

The MoU is "the reflection of our commitment and strong bilateral cooperation in the fields of defense industry," Eris Herryanto, the director general of defense facilities at Indonesia's Defense Ministry, said in a speech ahead of the signing ceremony here with DAPA Commissioner Byun Moo-keun at South Korea's Defense Ministry.

"I'm confident that through signing this MoU on joint development of the KF-X Fighter, the outcome of cooperation shall be implemented at its earliest convenience," Herryanto said. "The realization of joint development, production and marketing will be finalized with our very own maximum of development capability."

Col. Lee Jong-hee, director of DAPA's KF-X development team, said his agency is negotiating with Turkey and the United Arab Emirates on investments in the KF-X program.

"There are two options on the table. One is to lure financial investments from other nations, such as Turkey and the United Arab Emirates," Lee said. "The other is to receive investments from Western aircraft makers wishing to participate in the KF-X."

Boeing and Lockheed Martin of the United States, the European defense group EADS and Sweden's Saab have shown their interest in the KF-X program, which is linked to South Korea's F-X III fighter acquisition competition set for next year. Under the F-X III program, South Korea plans to purchase 40 to 60 stealthy fighters.

Initiated in 2002, the KF-X program was originally aimed at producing and marketing about 120 aircraft, stealthier than Dassault's Rafale or the Eurofighter Typhoon, but not as stealthy as Lockheed's F-35 Lightning II.

Due to questions about the program's economic and technical feasibility, the South Korean government refocused the requirement last year to produce fighter jets on par with the F-16 Block 50 to replace older F-4 and F-5 aircraft.

Key requirements for the KF-X include an active electronically scanned array radar, an electronic warfare suite, an infrared search-and-track system, super-velocity intercept and supercruise capabilities, and air-to-air, air-to-ground and air-to-sea capabilities.

In the first 11 years of exploratory and full-scale development, about 120 KF-Xs would be built, and more than 130 aircraft would be produced after the first-phase models reach initial operational capability.




sumber: [Only registered and activated users can see links]

dwibowo_83
22 July 2010, 11:03
Wow.... keren bener nih. Ini bisa jadi kesempatan buat industri kedirgantaraan Indonesia untuk menyerap teknologi sebanyak-banyaknya. Memang sih, untuk saat ini, gwe sangsi Indonesia bisa berperan banyak dalam proyek ini. Tapi sejauh ini, PT Dirgantara Indonesia ternyata juga udah mampu untuk bikin komponen pesawat2 macam A380 (komponen sayap), A330, A340, Boeing 737, bahkan F-16.

Juga sebenernya kemampuan rancang bangun PT DI ga jelek2 amat kok, cuma karena ga ada dana aja. Tahun 90-an aja waktu prototype N250 pertama terbang, udah pake teknologi fly by wire. Itu pertama kali di dunia untuk pesawat commuter. Produsen2 kelas dunia pembuat pesawat commuter macam Bombardier atau Embraer baru masang fly by wire di produk2 mereka di pertengahan 2000-an atau hampir 10 tahun kemudian!

Hdr Karlianto
22 July 2010, 11:23
yah pemerintah emang masih tutup mata lah ama perkembangan dirgantara kita padahal klo mau diseriusin mungkin bisa tekan anggaran militer untuk bikin pesawat tempur yah :D

dwibowo_83
22 July 2010, 12:24
Yah, ini udah langkah bagus dengan mulai terlibat dengan Korsel ini. Setidaknya anggaran $ 4,1 miliar itu lebih bermanfaat dipakai untuk riset dan juga kita dapat pesawatnya drpd sekedar beli jadi aja.

Kemaren yang panser Anoa itu juga khan alih teknologi panser sejenis dari Perancis (panser VAB). Denger2 dari temen yang punya akses info dalam sih, Perancis udah nawarin alih teknologi untuk main battle tank juga (Type Leclerq). Tinggal ghimana kelanjutannya aja nih.

Gwe sendiri sih sangat mendukung kalo yang bisa alih teknologi atau lisensi begini walau sedikit lebih mahal, tapi kedepannya jauh lebih bermanfaat. Sayangnya kadang2 pemerintah malah pilih bikinan luar hanya karena faktor pertimbangan harga dan belom tentu juga lebih canggih dibanding yg buatan dalam negeri. Bahkan terkadang yg dibeli barang bekas. Contohnya udah banyak lah.

Hdr Karlianto
22 July 2010, 12:30
yup setuju

kan ujung2nya kita bisa buat sendiri tuh pesawat dan menyempurnakan dari blue print yang sekarang :D

ggLovers
22 July 2010, 13:27
harusnya jangan hanya pesawat tempur,tapi kapal perang juga........heee

dwibowo_83
23 July 2010, 12:07
harusnya jangan hanya pesawat tempur,tapi kapal perang juga........heee

Kapal perang sih udah lumayan baik juga. Yang tercanggih kelas Landing Platform Dock itu, yang hasil kerjasama dengan (lagi2) Korea Selatan. Bobotnya 7300 ton. Cukup besar untuk ukuran kapal perang. Selain itu ya kapal2 patroli kelas berat (bukan yg fiberglass itu :p). Ada hovercraft juga. Cuman setuju, perlu lebih intensif laghi karena kita negara perairan.

Arief_Chen
23 July 2010, 12:48
Hmmm... Engineer indonesia banyak yang kerja di luar negeri, dibayar secara layak baik dari sisi gaji, fasilitas dan jaminan asuransi. Selain itu juga sangat dihargai hasil kerja-nya, itu menjadi alasan klasik kenapa indonesia sulit mengembangkan teknologi di dalam negeri.

Agak pesimis kalau ternyata indonesia masih import peralatan, kendaraan, senjata, pesawat dan juga kapal dari luar dgn cost sangat tinggi, lebih baik duit-nya buat research and development bagi engineer2 indo.
Post Menggunakan Mobile Phone
[Only registered and activated users can see links]

dwibowo_83
24 July 2010, 04:35
Betul bro itu.... kalau udah bisa bikin, dan kualitas ga kalah buat apa kita import? contoh sederhana ya senapan serbu aja deh. Buatan Indonesia ga kalah dengan luar negeri koq. Buktinya waktu kejuaraan menembak antar militer di Asia Tenggara, TNI berbekal senapan dan pistol buatan PINDAD juara. Mampu mengalahkan negara tetangga yg memakai senjata buatan negara2 maju.

Lalu ada wacana mau import pesawat cargo militer buatan Italia. Kalo pesawatnya segede Hercules sih gwe maklum karena kita ga bisa bikin. Ternyata cuma sekelas CN-235. Lha wong negara2 macam Korea, Thailand, Malaysia, dll aja beli CN-235 dari kita, koq kita malah import pesawat jenis lain?